Senyum manis es pisang ijo

Sahur!sahur!sahur! begitulah suara teriakan yang terdengar dari luar rumahku. Ya benar itu suara anak-anak remaja yang ada di sekitar rumahku. Waktu menunjukan pukul 03.00 WIB. Ibuku sedang memasak untuk persiapan makan sahur. Ayahku sedang duduk santai menonton tv sambil menunggu ibuku yang sedang memasak dan adiku sedang bersandar di dinding depan kamar sambil mencoba untuk membuka kedua matanya karena dibangunkan oleh ayahku.

Setelah makanan sudah tersedia di meja makan, aku dan keluargaku menyantap makanan yang sudah ibu siapkan. Adzan subuh sudah berkumandang. Ayah, aku dan adiku bergegas ke masjid untuk melaksanakan sholat subuh berjamaah. Selesai sholat subuh saat hendak masuk ke dalam rumah, adit dan teman-temanku yang lain memanggilku untuk bermain petasan yang sudah mereka siapkan.

Jalan-jalan masih sepi dan gelap. Toko-toko di pinggir jalan masih tutup dan kita tetap asyik untuk bermain petasan. Tidak terasa cahaya sudah mulai terang. Aku dan teman-temanku bergegas pulang dan bersiap untuk mandi dan menjalankan aktivitas seperti biasa. Hari sudah mulai sore. Ibuku sudah sibuk di dapur untuk menyiapkan makanan dan minuman untuk berbuka puasa nanti. Aku dan adiku bermain sepeda mengelilingi komplek untuk menghabiskan waktu menunggu berbuka puasa.

Di perjalanan aku melihat banyak penjual makanan dan minuman yang berjualan untuk berbuka puasa. Dengan muka lesuh aku dan adiku hanya melihat dan tidak mampu membeli dagangan tersebut karena tidak membawa uang. Saat sedang sedih di pinggir jalan, datanglah kakak berpakaian putih menghampiriku dan berkata ” Lagi apa dek?” tanya kakak itu. “Lagi menghayal kalau buka puasa nanti bisa menikmati es pisang ijo kak ” jawabku dengan spontan. “Eh tidak kak.” sambil ingin mengayuh sepedaku. “Mau kemana dek? sini ikut kaka dulu  ” ucap kakak berpakaian putih. Kakak itu langsung pergi ke penjual takjil dan membelikan aku dan adikku es pisang ijo yang dari tadi aku hanya bisa melihatnya. “Ini buat kamu buka puasa dek,” sambil memberikan es pisang ijo yang ia belikan untuk aku dan adiku.

Setelah menerima pemberian dari kakak berbaju putih, perasaanku sangat senang dan terkejut. Senang karena sudah dibelikan es pisang ijo yang dari tadi hanya dapat aku lihat tanpa bisa membelinya. Terkejut karena ternyata senyum kakak berbaju putih sungguh manis bahkan melebihi manisnya es pisang ijo.

“Woy jalan cepat!” ucap mas-mas memakai jaket denim dan helm bogo memintaku untuk jalan karena sepedaku menghalangi laju motornya. “Kak ayo pulang hari sudah mulai sore,” adiku berkata dan meminta ku agar mengayuh sepedanya lebih cepat agar sampai ke rumah dengan tepat waktu. Sesampainya di rumah aku langsung mandi dan bersiap untuk berbuka puasa. Allahuakbar Allauakbar. Adzan maghrib sudah berkumandang aku dan keluarga menyantap makanan dan minuman di meja yang sudah disiapkan ibu dari tadi sore. Sambil berbuka puasa kita saling bertukar cerita tentang aktivitas yang dilakukan hari ini.

Selesai berbuka puasa, aku dan adiku kembali bersiap-bersiap untuk melaksanakan Sholat tarawih di masjid. Saat di perjalanan menuju masjid aku yang berjalan di depan adikku tiba-tiba merasa kalau adikku tidak berada di belakangku. Ternyata benar adikku menghilang mungkin bermain dengan teman-temannya, bermain petasan atau perang sarung. Apapun yang dilakukannya aku tidak memikirkannya dan tetap pada tujuan awal untuk Sholat tarawih di masjid.

“Sakit, aduh sakit sekali,” terdengar teriakan dari dalam rumah. Aku yang baru saja pulang dari mesjid langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi. “Ada apa nih yah? apa yang sedang terjadi,” ucapku. Ternyata saat tadi adikku menghilang, dia dan teman-temannya bermain petasan dan petasan yang dia beli melukai dirinya sendiri. Tidak hanya itu Adikku dimarahi oleh pak Rt karena bermain petasan tepat di depan rumahnya. “Lain kali kalau mau sholat jangan menghilang,” jawabku sambil mengusap kepala adikku tetapi dengan tenaga yang kuat.

Share This Post

What are you looking for ?

Find some desired keywords.