Sejujurnya tidak pernah terlintas sama sekali dalam pikiranku untuk menulis tentang ini. Tetapi walapun otak menolak, hati dan jari-jemariku ingin melakukan. Indonesia merdeka pada tahun 1945. Secara harfiah, “merdeka” berarti bebas atau tidak terikat. Dalam konteks yang lebih luas, terutama dalam kaitannya dengan kemerdekaan suatu bangsa, “merdeka” berarti terbebas dari penjajahan, penindasan, atau kekuasaan pihak lain.
Meski begitu, secara penglihatan mataku. Tidak semua orang merasakan arti Merdeka. Masih banyak orang yang sudah bekerja tetapi haknya belum terpenuhi, masih terlihat keluarga yang kelaparan dan masih ada anak-anak kecil yang berjualan untuk menghidupi keluarganya. Semua yang terjadi belum menggambarkan arti dari Merdeka. Walapun setiap tanggal 17 Agustus, semua masyarakat merayakan hari kemerdekaan. Tetapi mereka belum merasakan arti Kemerdekaan seutuhnya.
Dari pagi hingga malam hari. Semua orang mengikuti berbagai macam acara untuk merayakan ulang tahun negara tercinta Indonesia. Mulai dari perlombaan, makan bersama sampai hiburan lainnya. Walaupun terlihat sederhana, menjalankan acara tersebut membutuhkan uang. Tidak sedikit masyarakat mengeluarkan uang agar bisa mengikuti acara tersebut walaupun beras di rumah tersisa sedikit.
Keceriaan yang penuh canda dan tawa menghiasi acara perayaan HUT Indonesia. Setelah acara selesai masih banyak anak-anak dengan kaos lusuhnya mengambil sesuatu saat acara sudah selesai. Mulai dari mengambil botol bekas, kardus bekas dan sisa makanan. Dan tidak sedikit banyak keluarga yang setelah merayakan hari kemerdekaan besoknya tidak bisa makan. Karena uang yang seharusnya untuk membeli beras dipakai untuk iuran kemerdekaan.
Meskipun semua masyarakat Indonesia belum menemukan arti dari kemerdekaan yang sesungguhnya, tetapi bendera merah putih harus tetap berkibar dimanapun. Merah putih tetaplah merah putih tidak ada yang bisa menggantikan. Kepalkan tanganmu, tegakan kepalamu dan berkata “Indonesia,”