Pagi itu sekitar tahun 2012, saat aku melihat carrier yang sudah berdebu di pojok kamar pribadiku. Sudah satu tahun aku tidak menyentuh barang itu. Setelah aktivitas di sekolah sudah selesai akupun memutuskan untuk kembali melanjutkan hobi yang sudah lama tidak dijalani. Naik gunung? Ya. Itulah hobiku, hobi yang orang katakan kalau naik gunung hanya menghabiskan waktu dan uang.
Semua orang berpendapat lebih baik uang tersebut disimpan untuk masa depan kelak. Tetapi bagiku naik gunung bukan sekedar kesenangan sesaat atau sekedar memamerkan foto saat di puncak. Gunung merupakan tempat yang jauh dari keramaian, tentunya kita akan dapat ketenangan yang tidak bisa kita dapatkan saat di kota.
Agar semua perlengkapan naik gunung milikku tidak berdebu. Aku memutuskan untuk naik gunung kembali. Gunung yang akan aku daki adalah Gunung Semeru, dengan ketinggian 3.676 m gunung ini diketahui menjadi gunung tertinggi Pulau Jawa.
Berangkat dari Tangerang bersama temanku Devit. Kita berangkat menggunakan transportasi umum bus menuju Stasiun Pasar Senen Jakarta. Saat di perjalanan, tiba-tiba preman duduk disebelahku dan meminta sejumlah uang. Dia mengancam kalau temannya akan menunggu di Lokasi tujuan. Aku hanya menghiraukan perkataan preman itu karena bagiku itu hanya sebuah ancaman kuno yang tidak berlaku.
Karena aku hanya terdiam dan tidak memikiran apa yang sedang terjadi. Preman itu mengeluarkan benda keras yang bisa saja melukaiku. Tetapi penumpang yang berada tepat dibelakangku yaitu temanku sendiri mencoba mempertanyakan kepada preman untuk apa dia melakukan hal seperti itu. “gua abis keluar dari penjara, dan butuh makan, tenang teman lu gak gua lukain,” kata preman sambil memegang bahu temanku memastikan kalau aku baik-baik saja.
Setelah menempuh perjalanan yang penuh dengan drama. Akhirnya kita tiba di Stasiun Pasar Senen. Tanpa pikir panjang aku langsung menuju loket untuk mencetak tiket yang sudah aku pesan sebelumnya. Saat di loket, ternyata antrian sangat panjang. Aku melihat ke arah jarum jam ternyata kereta yang akan aku naiki akan segera tiba. Tiket sudah dicetak namun nahas kereta yang akan kita naiki sudah berangkat.
Semangatku seketika menurun karena tiketku tidak bisa terpakai dan uangku terbuang begitu saja. Namun temanku tidak menyerah, dia mencarikan tiket kereta lain dan menemukannya. Walaupun tujuannya tidak sesuai. Tidak mengapa yang penting kita tetap berangkat meskipun tidak sesuai rencana.
Akhirnya kita sampai di Stasiun Malang Kota Lama. Setelah memutari beberapa kota terlebih dahulu, karena kereta yang kita pesan tidak ada yang langsung berhenti di Malang. Setelah itu kita berangkat ke Pasar Tumpang untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Ranupani, Lokasi untuk memulai pendakian.
Saat itu peraturan dari petugas setempat mengharuskan setiap orang yang ingin mendaki ke Gunung Semeru harus berkelompok dan minimal empat orang. Tetapi aku hanya berdua dengan temanku. Tiba-tiba petugas menghampiriku dan memberi saran agar bergabung dengan kelompok yang hanya berisikan empat orang. Sambil menunjukkan jarinya ke salah satu kelompok.
Setelah berkenalan akhirnya aku dan temanku mendaki bersama empat orang teman baruku. Mereka semua berasal dari Provinsi Nusa Tenggara Timur tepatnya aku tidak tahu. Tetapi mereka tinggal di Yogyakarta karena sedang menyelesaikan pendidikannya. Selama perjalanan mendaki kita saling bertukar cerita. Tidak terasa hari sudah mulai gelap dan kita harus mendirikan tenda untuk beristirahat. Karena perut sudah terasa lapar, kita santap makan malam bersama di dalam tenda. Ada hal menarik yang tidak pernah aku lihat dan makan sebelumnya. Mereka menghidangkan sagu kering berbentuk segi empat seperti roti tawar disertai ikan segar dan sambal colo-colo. Walaupun aku tidak pernah makan sebelumnya tetapi tetap aku makan karena kondisi fisik harus tetap terjaga. Setelah makan malam kita semua tidur,
Suara burung dan keheningan Danau Ranukumbolo menyambut pagiku. Pagi ini terasa segar sekali karena pertama kalinya aku melihat pemandangan seindah ini. Tidak ingin kehilangan momen. Temankun mengambil telepon genggam milikku dan mengabadikan momen yang mungkin tidak bisa didapatkan untuk kedua kalinya. Setelah puas bermain dan berfoto-foto. Kita melanjutkan perjalanan ke Kalimati tempat terkahir sebelum pergi ke puncak.
Untuk menuju kesana kita harus melewati tanjakan cinta yang kata orang banyak mitosnya. Salah satunya yaitu sebelum menanjak harus memikirkan harapan. Dan selama menanjak tidak boleh menengok ke belakang, kalau itu terjadi makan harapan itu akan sirna. Sampai sekarang aku tidak begitu percaya mitos itu tetapi saat melewati tanjakan cinta, aku sama sekali tidak menghadap kebelakang walaupun dipanggil oleh seseorang.
Setelah melewati tanjakan cinta dan menyusuri hutan. Akhirnya kita tiba di Kalimati dan langsung mendirikan tenda lalu mempersiapkan perlengkapan dan fisik untuk melanjutkan perjalanan ke Puncak Mahameru. Berangkat pukul 03.00, aku dan temanku sudah tidak sabar untuk berdiri dan mengibarkan bendera di puncak tertinggi Pulau Jawa. Menurutku jalan menuju puncak sangat menyulitkan, karena di penuhi dengan pasir. Ketika kita berjalan lima langkah seperti hanya berjalan dua langkah. Setelah menempuh perjalanan yang sangat menguras tenaga, akhirnya kita tiba di puncak.
Persaanku sangat tidak menentu. Terkadang senang, sedih dan bingung. Meskipun begitu aku berhasil menaklukan rasa cape dan ego dalam diriku. Seteleh menikmati suasana di atas ketinggian, akhirnya saya turun kembali ke tenda untuk beristirahat kembali. Hal yang tidak diingingkanpun tiba, aku dan temanku merasakan kelelahan yang sangat luar biasa. Mungkin karena kita melakukan perjalanan sangat singkat. Selain itu aku dan temanku berpisah dengan kelompok yang kita bertemu di awal pendakian. Sialnya semua persediaan logistik yang kita punya ada di mereka semua. Saat di pemberhentian pertama aku gabungkan semua.
Singkat cerita aku kembali ke Danau Ranukumbolo untuk menyelesaikan pendakian. Beruntungnya kita bertemu teman baru dan menceritakan banyak hal. Salah satunya tentang kehabisan persediaan logistik. Oleh karena itu mereka memberiku makanan dan minuman. Tanpa pikir panjang aku dan temanku manyantap makanan tersebut tanpa sisa. Tidak terasa sudah memasuki hari ke empat dan kita harus turun gunung karena waktu pendakian sudah selesai.
Tiba di Desa Ranupani saat hari sudah gelap. Kita memutuskan menginap, sebelum kembali ke Pasar Tumpang. Sesampainya di Pasar Tumpang kita nampak kebingungan karena jadwal kereta yang sudah kita pesan masih beberapa hari lagi untuk keberangkatan. Saat sedang terjebak dalam situasi membingungkan, ada salah satu warga yang menawarkan rumahnya untuk menjadikan tempat persinggahan sementara. Menghabiskan hampir sepuluh hari, akhirnya perjalanan pendakian Gunung Semeru selesai dan aku kembali ke rumah menjadi remaja yang bingung akan masa depan.