Seni Berputar di Kota Industri dan Musik untuk Kelas Pekerja di Tangerang

Seni Berputar di Kota Industri dan Musik untuk Kelas Pekerja di Tangerang

Saya meracik daftar putar Spotify ini dan menamainya Run but yang disusul oleh simbol pria mengangkat kedua bahu. Saya membuatnya bukan dalam keadaan bugar habis berlari maraton, melainkan di sela-sela jam kerja yang menjemukan, mungkin tepat beberapa menit sebelum tenggat revisi menumpuk di meja kantor. Gestur pria yang menaikkan kedua bahu dan membuka telapak tangannya itu adalah bentuk kejujuran paling mentah yang bisa saya berikan. Sebagai orang yang tinggal sekaligus mencari makan di kota yang sama, di antara deretan ruko yang seragam, kawasan industri berdebu, atau jalanan provinsi yang carut marut, gestur mengangkat bahu itu adalah kepasrahan yang mutlak. Sebuah pengakuan sunyi: saya ingin sekali lari, tapi mau lari ke mana lagi kalau dari rumah ke tempat kerja pun kita cuma berputar-putar di Tangerang?

Bagi kami yang hidup sebagai kelas bekerja di Tangerang, “berlari” (run) bukanlah olahraga untuk kebugaran kardiovaskular. Lari adalah tindakan riil membelah kemacetan Jalan Raya Serpong atau Cikokol saat matahari sedang terik-teriknya, melompati lubang jalanan di sekitar Daan Mogot, atau bertaruh nyawa di antara truk-truk kontainer di jalan kawasan industri. Kita tidak perlu jauh-jauh menyeberang ke Jakarta untuk merasakan betapa absurdnya rutinitas harian. Tangerang sudah menyediakan porsi alienasi yang cukup tanpa perlu repot-repot naik KRL.

Saat The Jansen melantunkan jika hidup hanya sekedar berjalan atau Mereguk Anti Depresan Lagi, lirik itu tidak terdengar seperti eksperimen musik punk yang pretensius. Itu terasa seperti laporan cuaca harian kota ini. Deru gitar yang bising dan balada melankolis dari The Jeblogs atau Lomba Sihir menjadi peredam bising terbaik untuk menyamarkan raungan klakson dan desisan pendingin ruangan kantor yang terlalu kencang.

Batavia Collective lewat track Senopati Shuffle menawarkan ritme jazz yang lincah, sebuah kontras yang tajam dengan pemandangan di luar jendela kantor saya. Di sini, Senopati terasa seperti mitologi dari planet lain. Kita tidak sedang berdansa di bar-bar berlampu remang Jakarta Selatan; kita sedang menyesap kopi saset di kantin ruko atau warung kelontong dekat tempat kerja, menyaksikan baliho-baliho perumahan mewah yang harganya tak akan pernah terjangkau oleh gaji kita sendiri.

Albert Camus pernah menulis tentang Sisifus yang dihukum mendorong batu besar ke puncak gunung berulang kali selamanya. Jika Camus pernah mencicipi rasanya mengendarai sepeda motor menyusuri jalanan Tangerang di jam pulang kerja dalam cuaca yang menyengat, dia mungkin akan menyadari bahwa Sisifus tidak sendirian. Ada ribuan Sisifus lain yang memakai kemeja kantoran atau seragam kerja, mengantongi dompet dengan saldo pas-pasan, dan sedang melamun di atas jok motor menunggu lampu merah yang durasinya seperti tanpa akhir.

Daftar putar ini pada akhirnya adalah traktat kecil tentang kepasrahan yang estetis. Saya sadar besok pagi alarm jam 06.00 akan kembali berbunyi, dan rute dari rumah saya yang ke kantor di Nagrak, Kota Tangerang ini akan diulang dengan presisi yang membosankan. Namun setidaknya, di tengah kepungan asap knalpot dan rutinitas yang monoton, saya punya musik yang paham bahwa kita semua hanyalah pemeran utama dalam sebuah opera absurd yang tak kunjung usai.

Playlist : klik disini

Share This Post

What are you looking for ?

Find some desired keywords.