Sore itu, sepulangnya dari beraktivitas sehari-hari. Aku selalu beristirahat di dalam kamar, sambil berbaring di atas Kasur dan melihat kalender yang tertempel di dinding mengharapkan tanggal merah itu muncul. Disaat aku berharap akan datangnya hari libur. Kepala ku tak sengaja menengok ke sudut pojok kamar tidur. Terlihat jelas lemari kusam yang berisikan barang-barang yang pernah aku pakai dahulu.
Aku bangun dari Kasur dan berjalan mendekati lemari itu. Tanganku berlahan membuka lemari kusam dan sudah dipenuhi debu. Seketika aku terdiam saat lemari itu terbuka. Ya karena isi lemari itu mengingatkan ku pada persitiwa kelam yang pernah ku alami empat tahun lalu.
Isi lemari itu adalah perlengkapan mendaki gunung. Dahulu aku senang sekali mendaki gunung. Karena menurutku mendaki merupakan cara untuk menghargai alam yang sudah di ciptakan oleh tuhan kepada kita. Pikiranku tiba-tiba menjadi kacau perisitiwa waktu itu terngiang-ngiang di kepalaku. Aku pun spontan dan langsung menutup lemari kusam itu.
Ketika waktu malam tiba, aku duduk sambil membaca buku dan menikmati secangkir teh. Semenjak kejadian sore tadi. Aku semakin kepikiran akan perstiwa itu. Malam pun semakin larut, badanku semakin lelah sepertinya aku butuh isitirahat. Aku bergegas untuk tidur dan berharap peristiwa itu tidak terus menerus menghantui pikiranku.
Ayam tetanggaku berkokok, menandakan datangnya pagi. Begitu juga tanda kalau inilah awal aktivitasku. Roti coklat keju dan segelas susu selalu menemaniku. Hp ku berbunyi, ternyata ada sebuah pesan dari teman lamaku. Ia bernama Angga, Angga temanku samasa sekolah, ia juga mempunyai hobi yang sama denganku.
“halo bro apa kabar? apa lu gak rindu dengan ketinggian?,” isi pesan singkat Angga. Aku pun langsung menghapus pesan itu dan aku pergi untuk melakukan aktivitasku sehari-hari.
Saat sedang duduk sambil minum es kelapa di seberang tempat kerjaku. Tiba-tiba Angga menelponku.
“wei sombong amat lu, gua sms gak pernah dijawab” ucap Angga.
“gua bukannya sombong tapi gua udah lupakan semua hal tentang itu” jawabku
“yaelah lebay lu, oke gini. Minggu depan gua tunggu di terminal biasa kalau kita mau nanjak. Kalau lu gak datang berarti lu cemen!” ucap Angga dengan nada kesal dan menutup teleponnya.
Aku lanjut minum es kelapa dan tidak peduli dengan percakapan tadi.
Hari yang dinantikan pun tiba, Angga menelponku lagi dan meyakinkanku agar tetap ikut dengannya. Aku tetap pada prinsipku, lebih baik sejenak aku menghianati temanku dari pada aku membuat hidupku menderita kembali.
Waktu berjalan begitu cepat. Sudah hampir empat hari Angga pergi mendaki, tetapi sampai saat ini Angga belum memberikan kabar. Aku langsung mengunci rumah dan pergi kerumah Angga karena ingin tau kabarnya. Sesampainya disana aku bertemu ibu Angga dan ia bilang kalau Angga belum sampai rumah. Mendengar kabar itu aku pun memutar otak dan mencari cara agar bisa tau kabar Angga. Angga mendaki salah satu gunung yang memang disana tidak ada orang yang menjaganya. Oleh sebab itu aku sangat khawatir.
Kegelisahanku semakin menjadi-jadi. Aku tak ingin temanku merasakan hal yang pernah membuat hidupku menderita.
Hari pun berganti. Teka10dku sudah bulat, pikiran negatif itu sudah aku buang jauh-jauh. Karena kepedulian terhadap teman jauh lebih penting. Dengan menggendong carrier di tubuhku, aku berangkat mendaki gunung untuk menyusul Angga.
“akhirnya kita bertemu lagi, aku ingin kita bersahabat sekali ini saja,” ucapku dalam hati sambil menatap gunung itu.
Jalan setapak aku lewati, batu-batu terjal aku hadapi. Suara burung sudah mulai terdengar, monyet bergelantungan sudah mulai terlihat. Kayanya aku sudah tiba di tengah-tengah hutan.
Persedian airku sudah habis, mata air masih jauh. Terpaksa aku menelan air ludahku sendiri. Tubuh ini sudah mulai lelah tetapi aku belum menemukan Angga.
“Angga, Angga, Angga aku datang. Kamu dimana?,” sautku.
Aku terus berteriak sampai Angga mendengar suaraku. Kaki ini terus berjalan, tiba-tiba aku terjatuh dan kakiku terluka. Aku berhenti sejenak sambil mengobati kakiku.
Terlihat bayangan seseorang sedang berlari dengan cepat. Bayangan itu terlihat berkali-kali.
“tolong, tolong, ada orang disana”
Aku mendengar suara seseorang dan mirip suara Angga. Akupun langsung lari untuk mengejar suara itu. Saat sedang berlari aku masuk kedalam jurang karena aku tidak meihat jalan, aku hanya fokus dengan suara itu.
Jaketku sobek, sepatuku rusak dan hampir semua tubuhku terluka. Rasa sakit itu berkurang saat suara yang tadi terdengar lebih keras. Aku percaya itu suara Angga dan ia tidak jauh dari sini.
Firasatku benar, ternyata ada seseorang disana. Aku menemukan sebuah tenda bewarna kuning dan pasti ada Angga di dalam situ. Benar saja Angga sedang duduk di depan tenda sambil memotong bawang dengan pisau. Akupun mendekat dan berkata.
‘’hai ga, gimana lu baik-baik aja kan?,”
Angga tidak berbicara sedikitpun, ia terus memotong bawang dengan pisau yang ada di tangannya. Saat aku ingin bersalaman dengannya, Angga langsung menarikku ke dalam tenda dan ia mencoba ingin membunuhku. Aku tidak tinggal diam, aku melawan Angga. Perkelahian antara aku dengan Angga pun terjadi. Setelah beberapa jam berkelahi, akupun menyerah. Karena kondisi fisikku tidak sekuat Angga. Aku terbaring lemas, dengan ambisinya ia langsung mendekatkan pisau di leherku.
Tiba-tiba.
Hp ku berbunyi dan ternyata ada sebuah pesan dari teman lamaku.
“halo bro ini Angga, gimana kabar lu? semoga peristiwa yang dulu pernah menimpa lu tidak terulang lagi ya,”